Surah ke-4
النّساۤء
An-Nisā'
“Perempuan”
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Pengantar surah
Surah an-Nisā’ yang terdiri dari 176 ayat itu adalah surah Madaniyah yang terpanjang sesudah Surah al-Baqarah. Dinamakan an-Nisā’ karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal yang berhubungan dengan perempuan serta merupakan surah yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah Al-Qur’an yang lain. Surah lain yang banyak juga membicarakan hal perempuan ialah Surah aṭ-Ṭalāq. Dalam hubungan ini Surah an-Nisā’ biasa disebut dengan sebutan Sūrah an-Nisā’ al-Kubrā (Surah an-Nisā’ yang besar), sedang Surah aṭ-Ṭalāq disebut dengan sebutan Sūrah an-Nisā’ aṣ-Ṣugrā (Surah an-Nisā’ yang kecil).
Pokok-pokok Isinya
1. Keimanan
Mencakup syirik, kekafiran dan hari kemudian.
2. Hukum-hukum
Kewajiban para wāṣi dan para wali, hukum poligami, maskawin, memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya, pokok-pokok hukum warisan, perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya, perempuan yang haram dikawini, hukum mengawini budak perempuan, larangan memakan harta secara batil, hukum syiqāq dan nusyūz, kesucian lahir batin dalam salat, hukum suaka, hukum membunuh seorang muslim, salat khauf, larangan melontarkan ucapan-ucapan buruk, masalah pusaka kalalah, dan lain-lain.
3. Kisah-kisah
Kisah-kisah tentang Nabi Musa dan pengikut-pengikutnya.
4. Lain-lain:
Asal manusia adalah satu, keharusan menjauhi adat zaman jahiliah dalam menggauli perempuan, cara menggauli istri, hak seseorang sesuai dengan kewajibannya, perlakuan Ahli Kitab terhadap kitab-kitab yang diturunkan kepadanya, dasar-dasar pemerintahan, cara mengadili perkara, keharusan siap-siaga terhadap musuh, sikap-sikap orang munafik dalam manghadapi peperangan, berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf, adab dalam peperangan, cara menghadapi orang-orang munafik, derajat-derajat orang yang berjihad.
- 1
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
Yā ayyuhan-nāsuttaqū rabbakumul-lażī khalaqakum min nafsiw wāḥidatiw wa khalaqa minhā zaujahā wa baṡṡa minhumā rijālan kaṡīraw wa nisā'ā(n), wattaqullāhal-lażī tasā'alūna bihī wal-arḥām(a), innallāha kāna ‘alaikum raqībā(n).
Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.143) Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.
143) Ayat ini menegaskan bahwa Nabi Adam a.s. dan Hawa tidak diciptakan melalui proses evolusi hayati seperti makhluk hidup lainnya, tetapi diciptakan secara khusus seorang diri, lalu diciptakanlah pasangannya dari dirinya. Mekanismenya tidak dapat dijelaskan secara sains. Selanjutnya, barulah anak-anaknya lahir dari proses biologis secara berpasangan-pasangan sesuai kehendak-Nya.
Tafsir ringkas
Setelah pada surah sebelumnya Allah menjelaskan bahwa kitab suci merupakan petunjuk jalan menuju kebahagiaan dan bahwa inti seluruh kegiatan adalah tauhid, pada surah ini Allah menjelaskan bahwa untuk meraih tujuan tersebut manusia perlu menjalin persatuan dan kesatuan, serta menanamkan kasih sayang antara sesama. Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu dengan menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, mensyukuri karunia dan tidak mengkufuri nikmat-Nya. Dialah Allah yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu yaitu Adam, dan Allah menciptakan pasangannya yaitu Hawa dari diri-nya yakni dari jenis yang sama dengan Adam; dan dari keduanya, pasangan Adam dan Hawa, Allah memperkembangbiakkan menjadi beberapa keturunan dari jenis laki-laki dan perempuan yang banyak kemudian mereka berpasang-pasangan sehingga berkembang menjadi beberapa suku bangsa yang berlainan warna kulit dan bahasa (Lihat: Surah arRum/30: 22). Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta pertolongan antar sesama, dengan saling membantu, dan juga peliharalah hubungan kekeluargaan dengan tidak memutuskan tali silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu karena setiap tindakan dan perilaku kamu tidak ada yang samar sedikit pun dalam pandangan Allah. Menjalin persatuan dan menjaga ikatan kekeluargaan adalah dasar ketakwaan yang dapat mengantarkan manusia ke tingkat kesempurnaan.