Tafsir ayat 89
فَقَالَ اِنِّيْ سَقِيْمٌ
Fa qāla innī saqīm(un).
kemudian dia berkata, “Sesungguhnya aku sakit.”
Tafsir tahlili
Kemudian Ibrahim melayangkan pandangannya ke bintang-bintang dengan berpikir secara mendalam bagaimana menghadapi kaumnya yang tetap bersikeras untuk menyembah patung, hanya dengan alasan mempertahankan warisan nenek moyang. Padahal, beliau sudah memberikan peringatan dan pengajaran kepada mereka, sebagaimana firman Allah:
اِذْ قَالَ لِاَبِيْهِ وَقَوْمِهٖ مَا هٰذِهِ التَّمَاثِيْلُ الَّتِيْٓ اَنْتُمْ لَهَا عٰكِفُوْنَ ٥٢ قَالُوْا وَجَدْنَآ اٰبَاۤءَنَا لَهَا عٰبِدِيْنَ ٥٣ (الانبياۤء)
(Ingatlah), ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?” Mereka menjawab, “Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya.” (al-Anbiyā'/21: 52-53)
Sesudah berpikir dan mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh, beliau memutuskan untuk mengambil tindakan yang bahaya, yaitu menghancurkan semua patung sembahan itu.
Pada suatu saat, kaum Ibrahim datang untuk mengundangnya guna menghadiri hari besar mereka. Beliau menolak ajakan mereka secara halus dengan alasan kesehatannya terganggu. Selain untuk menghindari hadir dalam hari besar mereka, Nabi Ibrahim bermaksud melaksanakan rencananya untuk menghancurkan patung-patung, dan menyatakan perlawanan secara terbuka terhadap pemuja patung-patung itu. Kaumnya tidak mengetahui rencana Nabi Ibrahim itu dan tidak pula mencurigainya. Juga tidak tampak pada sikapnya bahwa dia tidak jujur dalam perkataannya. Dengan demikian, upacara hari besar mereka berlangsung tanpa hadirnya Ibrahim. Alasan terganggu kesehatannya untuk tidak menghadiri undangan kaumnya, padahal sebenarnya dia tidak sakit, tidaklah dipandang dusta yang terlarang dalam agama. Bahwa Ibrahim membohongi kaumnya memang benar. Rasulullah bersabda:
لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيْمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ غَيْرَ ثَلَاثِ كَذِبَاتٍ: ثِنْتَيْنِ فِي ذَاتِ اللّٰهِ تَعَالَى قَوْلُهُ إِنِّي سَقِيْمٌ وَقَوْلُهُ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيْرُهُمْ هٰذَا وَقَوْلُهُ فِي سَارَةَ هِيَ أُخْتِيْ. (رواه أحمد والشيخان عن أبي هريرة)
Nabi Ibrahim tidak berbohong kecuali tiga perkataan, dua di antaranya tentang zat Allah, yaitu kata-katanya “Saya sedang sakit” dan “sebenarnya yang besar ini yang memecahkannya”, dan kata-katanya mengenai istrinya Sarah “ini saudaraku”. (Riwayat Aḥmad dan asy-Syaikhāni dari Abū Hurairah)
Kata-kata Nabi Ibrahim bahwa kesehatannya terganggu yang diucapkan di hadapan kaumnya sebenarnya untuk menghindari kehadirannya pada upacara hari besar kaumnya.
Ibrahim berkata, “Sesungguhnya kami dan bapak-bapakku berada dalam kesesatan yang nyata”. Mereka menjawab, “Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?” Ibrahim berkata, “Sebenarnya Tuhan kamu adalah Tuhan langit dan bumi yang telah Dia ciptakan dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu. Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya.”
Sumber: Al-Qur'an dan tafsir Kementerian Agama RI.