Tafsir ayat 12
وَلِسُلَيْمٰنَ الرِّيْحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَّرَوَاحُهَا شَهْرٌۚ وَاَسَلْنَا لَهٗ عَيْنَ الْقِطْرِۗ وَمِنَ الْجِنِّ مَنْ يَّعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِاِذْنِ رَبِّهٖۗ وَمَنْ يَّزِغْ مِنْهُمْ عَنْ اَمْرِنَا نُذِقْهُ مِنْ عَذَابِ السَّعِيْرِ
Wa lisulaimānar-rīḥa guduwwuhā syahruw wa rawāḥuhā syahr(un), wa asalnā lahū ‘ainal-qiṭr(i), wa minal-jinni may ya‘malu baina yadaihi bi'iżni rabbih(ī), wa may yazig minhum ‘an amrinā nużiqhu min ‘ażābis-sa‘īr(i).
Bagi Sulaiman (Kami tundukkan) angin yang (jarak tempuh) perjalanannya pada waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya pada waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula)623) serta Kami alirkan cairan tembaga baginya. Sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya dengan izin Tuhannya. Siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab (neraka) Sa‘ir (yang apinya menyala-nyala).
623) Apabila Nabi Sulaiman a.s. melakukan perjalanan dari pagi sampai dengan tengah hari, jarak yang ditempuhnya sama dengan jarak perjalanan unta dalam sebulan.
Tafsir tahlili
Pada ayat ini diterangkan bahwa Allah menundukkan angin untuk Nabi Sulaiman sehingga dapat membawanya ke tempat-tempat yang diingininya dengan cepat sekali. Dalam waktu setengah hari saja angin dapat membawanya ke tempat yang jaraknya sebulan perjalanan, baik perjalanan itu pada waktu pagi sampai zuhur maupun pada waktu siang mulai dari zuhur sampai terbenamnya matahari.
Qatādah dalam menafsirkan ayat ini menyatakan, “Angin dapat membawa Sulaiman dari pagi sampai tergelincirnya matahari sejauh sebulan perjalanan dan dari tergelincirnya matahari sampai terbenamnya sejauh sebulan perjalanan pula. Dalam hal ini, al-Ḥasan al-Baṣrī berkata, “Sulaiman pernah berangkat dengan mengendarai angin, dari Damaskus ke Isṭakhr lalu dia turun di sana untuk makan siang, kemudian dia berangkat lagi ke Kabul untuk bermalam di sana. Padahal jarak antara Damaskus dan Isṭakhr adalah sebulan perjalanan bagi orang yang berjalan cepat dan jarak antara Isṭakhr dan Kabul adalah sebulan perjalanan pula.
Karunia lainnya yang diberikan Allah kepada Sulaiman ialah melunakkan tembaga seperti lilin sehingga mudah dibentuk menurut keinginan orang yang mengolahnya. Hal ini sama dengan karunia yang diberikan kepada Nabi Daud yaitu melunakkan besi.
Di antara karunia itu pula ialah menundukkan jin untuk bekerja membuat apa saja yang diingini Sulaiman. Jin-jin itu selalu taat dan patuh mengikuti perintahnya, karena mereka diancam oleh Allah dengan azab yang pedih apabila tidak memenuhi perintah Sulaiman.
Sumber: Al-Qur'an dan tafsir Kementerian Agama RI.