Surah ke-66
التّحريم
At-taḥrīm
“Pengharaman”
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Pengantar surah
Surah ini terdiri dari 12 ayat, termasuk kelompok surah Madaniyyah, diturunkan sesudah Surah al-Ḥujurāt. Dinamai Surah at-Taḥrīm karena pada awal surah ini terdapat kata tuḥarrimu yang kata asalnya adalah at-taḥrīm yang berarti “pengharaman.”
Pokok-pokok Isinya:
1. Keimanan:
Kesempatan bertobat hanyalah di dunia. Segala amal perbuatan manusia di dunia akan dibalas di akhirat.
2. Hukum-hukum:
Larangan mengharamkan apa yang dibolehkan Allah; kewajiban mem-bebaskan diri dari sumpah yang diucapkan untuk mengharamkan yang halal dengan membayar kafarat; kewajiban memelihara diri dan keluarga dari api neraka; perintah memerangi orang-orang kafir dan munafik dan berlaku keras terhadap mereka di waktu perang.
3. Lain-lain:
Iman dan perbuatan baik atau buruk seseorang tidak tergantung kepada iman dan perbuatan orang lain walaupun antara suami istri seperti istri Nabi Lut, istri Fir‘aun, dan Maryam.
- 1
يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَآ اَحَلَّ اللّٰهُ لَكَۚ تَبْتَغِيْ مَرْضَاتَ اَزْوَاجِكَۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Yā ayyuhan-nabiyyu lima tuḥarrimu mā aḥallallāhu lak(a), tabtagī marḍāta azwājik(a), wallāhu gafūrur raḥīm(un).
Wahai Nabi (Muhammad), mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu? Engkau bermaksud menyenangkan hati istri-istrimu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.721)
721) Nabi bersumpah untuk tidak menggauli istrinya, yaitu Mariah al-Qibtiyah. Dengan sumpah ini, sesuatu yang halal menjadi tidak diperbolehkan. Jadi, ayat ini tidak bermakna bahwa Nabi mengubah hukum halal menjadi haram.
Tafsir lengkapTafsir ringkas
Setelah pada surah sebelumnya Allah menyapa Nabi tentang hukum dan etika menceraikan istri, pada awal surah ini Allah menyapa, “Wahai Nabi! Mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu dengan bersumpah tidak akan pernah minum madu setelah minum madu di rumah Zainab binti Jahsy, salah seorang istrimu, dan tidak akan pernah melakukan hubungan suami istri dengan Mariyah al-Qibtiyyah, setelah berhubungan di rumah Hafsah? hanya karena Engkau ingin menyenangkan hati istri-istrimu, terutama Hafsah dan Aisyah?” Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang kepada siapa saja yang bertobat, termasuk dua istri Nabi, yaitu Hafsah dan Aisyah.