Tafsir ayat 9
قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِّنَ الرُّسُلِ وَمَآ اَدْرِيْ مَا يُفْعَلُ بِيْ وَلَا بِكُمْۗ اِنْ اَتَّبِعُ اِلَّا مَا يُوْحٰٓى اِلَيَّ وَمَآ اَنَا۠ اِلَّا نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ
Qul mā kuntu bid‘am minar-rusuli wa mā adrī mā yuf‘alu bī wa lā bikum, in attabi‘u illā mā yūḥā ilayya wa mā ana illā nażīrum mubīn(un).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku bukanlah Rasul yang pertama di antara para rasul dan aku tidak tahu apa yang akan diperbuat (Allah) kepadaku dan kepadamu. Aku hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan.”
Tafsir tahlili
Pada ayat ini, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk mengatakan bahwa ia bukanlah yang pertama di antara para rasul. Seperti telah disebutkan dalam keterangan kosakata, bid‘ artinya sesuatu yang baru, atau barang yang baru pertama kali adanya. Jika kaum musyrik mengingkari kerasulan Muhammad padahal sebelumnya telah banyak rasul Allah sejak Nabi Adam sampai Nabi Isa, maka sikap ingkar serupa itu sangat aneh dan perlu dipertanyakan karena diutusnya Muhammad sebagai rasul sesungguhnya bukan yang pertama di antara para rasul. Sebelum Nabi Muhammad, Allah telah mengutus banyak nabi dan rasul pada setiap zaman dan tempat yang berbeda. Pengutusan para nabi oleh Allah untuk memberi petunjuk kepada manusia adalah pengalaman universal umat manusia, bukan hanya untuk memperbaiki keadaan kaum musyrik Mekah. Jadi diutusnya Muhammad untuk mengemban misi risalah, bukanlah sesuatu yang baru sama sekali.
Selanjutnya Allah memerintahkan agar Rasulullah menyampaikan kepada orang-orang musyrik bahwa ia tidak mengetahui sedikit pun apa yang akan dilakukan Allah terhadap dirinya dan mereka di dunia ini, apakah ia harus meninggalkan negeri ini dan hijrah ke negeri lain seperti yang telah dilakukan nabi-nabi terdahulu, ataukah ia akan mati terbunuh seperti nabi-nabi lain yang mati terbunuh. Ia juga tidak mengetahui apa yang akan ditimpakan kepada kaumnya. Semuanya itu hanya diketahui oleh Allah yang Maha Mengetahui. Rasulullah saw menegaskan kembali bahwa walaupun Allah telah berjanji akan memberikan kemenangan kepada kaum Muslimin dan akan mengalahkan orang-orang kafir, memasukkan kaum Muslimin ke dalam surga dan memasukkan orang-orang kafir ke dalam neraka, namun ia sedikit pun tidak mengetahui kapan hal itu akan terjadi.
Dari ayat ini dapat diambil kesimpulan bahwa hanya Allah saja yang mengetahui segala yang gaib. Para rasul dan para nabi tidak mengetahuinya, kecuali jika Allah memberitahukannya. Karena itu, ayat ini membantah dengan tegas kepercayaan yang menyatakan bahwa para wali mengetahui yang gaib, mengetahui apa yang akan terjadi. Rasulullah saw sendiri sebagai utusan Allah mengakui bahwa ia tidak mengetahui hal-hal yang gaib, apalagi para wali yang tingkatnya jauh di bawah tingkat para rasul.
Dalam hadis riwayat Imam al-Bukhārī dan imam-imam yang lain:
عَنْ اُمِّ الْعَلَاءِ لَمَّا مَاتَ عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُوْنٍ قُلْتُ رَحِمَكَ اللّٰهُ اَبَاالسَّائِبِ لَقَدْ اَكْرَمَكَ اللّٰهُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَمَا يُدْرِيْكِ أَنَّ اللّٰهَ أَكْرَمَهُ اَمَّا هُوَ فَقَدْ جَاءَهُ الْيَقِيْنُ مِنْ رَبِّهِ إِنِّي لِأَرْجُوْ لَهُ الْخَيْرَ وَاللّٰهِ مَا اَدْرِيْ وَاَنَا رَسُوْلُ اللّٰهِ مَا يَفْعَلُ بِي وَلَا بِكُمْ قَالَتْ اُمُّ الْعَلَاءِ: فَوَ اللّٰهِ مِا اُزَكِّى بَعْدَهُ اَبَدًا .(رواه البخاري)
Dari Ummul ‘Alā', ketika ‘Uṡmān bin Maẓ‘ūn meninggal dunia aku berdoa semoga Allah merahmatimu hai Abu as-Saib, sungguh Allah telah memuliakanmu. Maka Rasulullah menegur; Dari mana engkau mengetahui bahwa Allah telah memuliakannya? Adapun dia sendiri telah mendapat keyakinan dari Tuhannya dan aku benar-benar mengharapkan kebaikan baginya. Demi Allah, aku tidak mengetahui, padahal aku Rasul Allah, apakah yang akan diperbuat Allah terhadap diriku, begitu pula terhadap diri kamu semua”. Ummul ‘Ala berkata: “Demi Allah semenjak itu aku tidak pernah lagi menyucikan (memuji) orang buat selama-lamanya. (Riwayat al-Bukhārī)
Sumber: Al-Qur'an dan tafsir Kementerian Agama RI.