Tafsir ayat 35
فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ اُولُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَّهُمْ ۗ كَاَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوْعَدُوْنَۙ لَمْ يَلْبَثُوْٓا اِلَّا سَاعَةً مِّنْ نَّهَارٍ ۗ بَلٰغٌ ۚفَهَلْ يُهْلَكُ اِلَّا الْقَوْمُ الْفٰسِقُوْنَ ࣖ
Faṣbir kamā ṣabara ulul-‘azmi minar-rusuli wa lā tasta‘jil lahum, ka'annahum yauma yarauna mā yū‘adūn(a), lam yalbaṡū illā sā‘atam min nahār(in), balāg(un), fahal yuhlaku illal-qaumul-fāsiqūn(a).
Maka, bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) sebagaimana ululazmi (orang-orang yang memiliki keteguhan hati) dari kalangan para rasul telah bersabar dan janganlah meminta agar azab disegerakan untuk mereka. Pada hari ketika melihat azab yang dijanjikan, seolah-olah mereka hanya tinggal (di dunia) sesaat saja pada siang hari. (Nasihatmu itu) merupakan peringatan (dari Allah). Maka, tidak ada yang dibinasakan kecuali kaum yang fasik.
Tafsir tahlili
Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar selalu tetap tabah dalam menghadapi sikap dan tindakan orang-orang kafir yang mengingkari dan mendustakan risalah yang disampaikan kepada mereka seperti ketabahan dan kesabaran yang telah dilakukan rasul-rasul ulul ‘azmi terdahulu. Rasulullah saw melaksanakan dengan baik perintah Allah ini. Beliau selalu bersabar dan tabah menghadapi segala macam cobaan yang datang kepada beliau. Mengenai kesabaran beliau ini diterangkan dalam hadis sebagai berikut:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: ظَلَّ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَائِمًا ثُمَّ طَوَى ثُمَّ ظَلَّ صَائِمًا ثُمَّ طَوَى ثُمَّ ظَلَّ صَائِمًا قَالَ: يَا عَائِشَةُ اِنَّ الدُّنْيَا لَا يَنْبَغِيْ لِمُحَمَّدٍ وَلَا لِآلِ مُحَمَّدٍ يَا عَائِشَةُ اللّٰهُ لَمْ يَرْضَ مِنْ اُولِى الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ اِلَّا الصَّبْرَ عَلَى مَكْرُوْهِهَا وَالصَّبْرَ عَنْ مَحْبُوْبِهَا ثُمَّ لَمْ يَرْضَ مِنِّيْ اِلَّا اَنْ يُكَلِّفَنِيْ مَاكَلَّفَهُمْ فَقَالَ: »فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ اُولُوالْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِḍ وَإِنِّيْ وَاللّٰهِ لَأَصْبِرَنَّ كَمَا صَبَرُوْا جُهْدِيْ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللّٰهِ. (رواه ابن أبي حاتم و الديلمي)
Dari Aisyah, ia berkata, “Rasulullah saw senantiasa berpuasa, lalu perutnya jadi kempis, kemudian ia tetap berpuasa, lalu perutnya jadi kempis, kemudian ia berpuasa. Beliau berkata, ‘Ya Aisyah, sesungguhnya kesenangan di dunia tidak patut bagi Muhammad dan keluarganya. Ya Aisyah, sesungguhnya Allah tidak menyukai para rasul ulul ‘azmi (Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad), kecuali bersabar atas segala cobaannya dan bersabar atas yang dicintainya, kemudian Allah tidak menyukai aku, kecuali Dia membebankan kepadaku seperti yang telah dibebankannya kepada para rasul itu. Maka Dia berkata, ‘Bersabarlah seperti para rasul ‘ulul ‘azmi telah bersabar.’ Dan sesungguhnya aku, demi Allah, benar-benar akan bersabar seperti para rasul itu, dan tidak ada sesuatu pun kekuatan kecuali kekuatan Allah’.” (Riwayat Ibnu Abī Ḥātim dan ad-Dailamī)
Sabar adalah sifat utama dan kunci menuju kesuksesan. Berbahagialah orang yang mempunyai sifat itu. Lawan dari sabar ialah tergesa-gesa. Dalam ayat ini, Allah mencela sifat tergesa-gesa, dan memperingatkan Nabi Muhammad agar jangan mempunyai sifat tersebut seperti memohon kepada Allah agar segera ditimpakan azab kepada orang-orang musyrik yang mengingkari seruan beliau karena azab itu pasti menimpa mereka, dan waktu kedatangannya hanya Allah yang mengetahui.
Allah berfirman:
وَذَرْنِيْ وَالْمُكَذِّبِيْنَ اُولِى النَّعْمَةِ وَمَهِّلْهُمْ قَلِيْلًا ١١
Dan biarkanlah Aku (yang bertindak) terhadap orang-orang yang mendustakan, yang memiliki segala kenikmatan hidup, dan berilah mereka penangguhan sebentar. (al-Muzzammil/73: 11)
Dan firman Allah:
فَمَهِّلِ الْكٰفِرِيْنَ اَمْهِلْهُمْ رُوَيْدًا ࣖ ١٧
Karena itu berilah penangguhan kepada orang-orang kafir itu. Berilah mereka itu kesempatan untuk sementara waktu. (aṭ-Ṭāriq/86: 17)
Sumber: Al-Qur'an dan tafsir Kementerian Agama RI.