Tafsir ayat 20
وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَكُمْ مِّنْ تُرَابٍ ثُمَّ اِذَآ اَنْتُمْ بَشَرٌ تَنْتَشِرُوْنَ
Wa min āyātihī an khalaqakum min turābin ṡumma iżā antum basyarun tantasyirūn(a).
Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah bahwa Dia menciptakan (leluhur) kamu (Nabi Adam) dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang bertebaran.
Tafsir tahlili
Ayat ini menerangkan adanya tanda-tanda kebesaran Allah pada diri manusia sendiri. Manusia diciptakan dari tanah, sedangkan tanah itu benda mati tidak bergerak. Sehubungan dengan kejadian manusia dari tanah itu, Rasulullah saw bersabda seperti berikut:
اِنَّ اللّٰهَ خَلَقَ آدَمَ مِنْ قَبْضَةٍ قَبَضَهَا مِنْ جَمِيْعِ اْلاَرْضِ فَجَاءَ بَنُوْ آدَمَ عَلَى قَدْرِ اْلاَرْضِ جَاءَ مِنْهُمُ اْلاَبْيَضُ وَاْلاَحْمَرُ وَاْلاَسْوَدُ وَبَيْنَ ذَلِكَ وَالْخَبِيْثُ وَالطَّيِّبُ وَالسَّهْلُ وَالْحَزَنُ وَبَيْنَ ذَلِكَ (رواه ابوداود والترمذي عن ابى موسى الاشعري)
Sesungguhnya Allah telah menjadikan Adam dari segumpal tanah yang diambil-Nya dari segala macam tanah. Kemudian datanglah anak-anak Adam menurut tanah asal mereka. Mereka ada yang putih, merah, hitam, dan sebagainya; ada pula yang jelek, baik, sederhana, bersedih, dan sebagainya. (Riwayat Abū Dāwud dan at-Tirmiżī dari Abū Mūsa al-Asy’arī)
Al-Qur’an banyak menerangkan tentang asal kejadian manusia. Dalam Surah al-Mu’minūn umpamanya Allah berfirman:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍ ۚ ١٢ ( المؤمنون)
Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari sari pati (berasal) dari tanah. (al-Mu’minūn/23: 12)
Dalam Surah al-Mu’minūn di atas diterangkan kejadian manusia itu berasal dari sari pati tanah. Ini adalah suatu kejadian yang tidak langsung dari manusia. Akan tetapi, dalam ayat 20 ini disebutkan asal kejadian itu langsung dari tanah dan segera diikuti dengan gambaran manusia yang bergerak dan bertebaran. Hal ini untuk dibandingkan antara proses dan arti tanah yang mati dan tak bergerak dengan manusia yang hidup dan bergerak, sesuai dengan firman Allah dalam ayat sebelumnya, “Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup.”
Hal itu adalah kejadian yang luar biasa dan menjadi tanda kekuasaan Allah. Hal itu juga mengisyaratkan adanya hubungan yang kuat antara manusia dan bumi sebagai tempat hidup mereka, dan tempat bertemu dengan asal kejadian itu. Manusia dan bumi dalam jagat raya ini tunduk pada hukum-hukum Allah yang berlaku padanya.
Proses perpindahan dari bentuk tanah yang tidak bergerak dan tidak berarti kepada bentuk manusia yang bergerak dan mulia ialah suatu per-pindahan yang mengandung unsur kebangkitan pada ciptaan Allah. Hal ini menggerakkan perasaan untuk mengucapkan syukur dan tasbih kepada-Nya, dan menggerakkan hati untuk mengagungkan Pencipta Yang Mahamulia itu.
Al-Qur’an menetapkan kenyataan itu agar manusia memperhatikan ciptaan Allah, dan memikirkan proses perpindahan dari tanah menjadi manusia. Dalam kejadian manusia, Al-Qur’an tidak memerinci proses per-tumbuhan dan perkembangan manusia dari tanah sampai menjadi manusia, karena Al-Qur’an adalah kitab hidayah bukan sepenuhnya berisi ilmu pengetahuan sehingga hanya memuat isyarat-isyaratnya saja. Adapun ahli ilmu pengetahuan telah mencoba menetapkan berbagai teori bagi pertumbuhan manusia, untuk menghubungkan mata rantai proses kejadian tersebut.
Sumber: Al-Qur'an dan tafsir Kementerian Agama RI.