Tafsir ayat 56
يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ اَرْضِيْ وَاسِعَةٌ فَاِيَّايَ فَاعْبُدُوْنِ
Yā ‘ibādiyal-lażīna āmanū inna arḍī wāsi‘atun fa iyyāya fa‘budūn(i).
Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku itu luas, maka menyembahlah hanya kepada-Ku.
Tafsir tahlili
Dalam ayat ini, Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar meninggalkan tempat tinggal mereka jika di sana mereka tidak dapat melaksanakan ketentuan-ketentuan agama, dan hidup dalam keadaan tertindas. Ayat ini mengandung suatu prinsip universal yang menyatakan bahwa bumi Allah ini diciptakan untuk kepentingan manusia. Seseorang boleh tinggal di mana saja ia inginkan apabila merasa aman di tempat itu. Di tempat yang baru itu, kaum Muslimin akan menemukan saudara-saudara dan keluarga-keluarga yang baru sebagai ganti dari saudara dan keluarga yang mereka tinggalkan, karena pada asasnya seluruh kaum Muslimin adalah bersaudara, saudara seiman, senasib dan seperjuangan.
Prinsip lain yang terkandung dalam ayat ini ialah agama Islam menyuruh penganutnya agar jangan terlalu fanatik kepada kampung halaman dan tempat kelahirannya. Tanah air wajib dibela, dibina, dan dibangun, demikian pula bangsa wajib dimajukan. Akan tetapi, janganlah sekali-kali karena terlalu mementingkan tanah air dan bangsa sendiri, berakibat merugikan negara dan bangsa lain. Seakan-akan Allah mengingatkan bahwa alam semesta ini adalah milik Allah dan diciptakan untuk kepentingan manusia. Oleh karena itu, manusia diperintahkan untuk menggunakan alam ini sesuai dengan tujuan Allah menciptakannya. Jangan sekali-kali ada yang mengaku bahwa sesuatu adalah miliknya yang mutlak. Kepemilikan seseorang atas sesuatu hanyalah sementara, dan pada saatnya milik itu akan diambil oleh-Nya kembali.
Ungkapan kalimat ayat di atas juga mengingatkan kaum Muslimin akan luas dan banyaknya milik Allah, agar mereka melayangkan pandangan jauh ke depan, dan tidak berpandangan sempit dan terbatas. Ungkapan itu mengingatkan kaum Muslimin agar jangan hanya melihat tempat kediaman sendiri dan beranggapan bahwa bumi itu hanyalah terbatas pada tempat tinggal mereka saja. Anggapan yang demikian itu salah. Bumi Allah itu lebih luas dari yang mereka perkirakan semula. Kalau mereka keluar dari negeri sendiri pergi menjelajahi negeri-negeri yang ada di dunia ini, tentu mereka akan melihat dan memperoleh pengalaman yang berharga dalam perjalanan itu. Mereka juga akan memperoleh kelapangan sesudah kesempitan dan sebagainya.
Allah berfirman:
۞ وَمَنْ يُّهَاجِرْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ يَجِدْ فِى الْاَرْضِ مُرٰغَمًا كَثِيْرًا وَّسَعَةً ۗ
Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. (an-Nisā’/4: 100)
Kemudian dalam sebuah hadis, Rasulullah saw bersabda:
اَلْبِلاَدُ بِلاَدُ اللّٰهِ وَالْعِبَادُ عِبَادُاللّٰهِ فَحَيْثُمَا اَصَبْتَ خَيْرًا فَأَقِمْ. (رواه احمد عن الزبير بن العوام)
Semua negeri adalah negeri Allah, dan semua hamba adalah hamba Allah, maka di mana saja kamu mendapat kebaikan (rezeki) maka bertempat tinggallah . (Riwayat Aḥmad dari az-Zubair bin al-’Awwām)
Allah memerintahkan agar hamba-hamba-Nya yang beriman hijrah meninggalkan kampung halaman mereka, karena Ia menjamin kehidupan mereka di bumi tempat mereka hijrah itu. Melaksanakan perintah hijrah meninggalkan kampung halaman adalah suatu perintah yang sangat berat dilaksanakan oleh seseorang, karena hal itu berarti ia berpisah dan meninggalkan famili dan kaum kerabatnya. Ia juga meninggalkan rumah dan pekarangan yang telah lama dirawat dan dibinanya, serta harta benda dan binatang ternak kesayangannya. Ia akan berpisah dengan negeri dan segala isinya, yang selama ini seakan-akan telah menyatu dengan dirinya sebagaimana bersatunya tubuh dengan anggota-anggota tubuh lainnya. Oleh karena itu, Allah menyampaikan perintah hijrah itu dengan nada yang lemah lembut dan halus sekali, seakan-akan diperintahkan kepada mereka, “Wahai hamba-hamba-Ku yang telah beriman kepada-Ku, ingatlah olehmu bahwa Aku telah menciptakan bumi yang luas ini untuk kamu semua. Oleh karena itu, manfaatkan dan tempatilah bumi itu olehmu.”
Sumber: Al-Qur'an dan tafsir Kementerian Agama RI.