Tafsir ayat 9
اَمْ حَسِبْتَ اَنَّ اَصْحٰبَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيْمِ كَانُوْا مِنْ اٰيٰتِنَا عَجَبًا
Am ḥasibta anna aṣḥābal-kahfi war-raqīmi kānū min āyātinā ‘ajabā(n).
Apakah engkau mengira bahwa sesungguhnya para penghuni gua dan (yang mempunyai) raqīm443) benar-benar merupakan keajaiban di antara tanda-tanda (kebesaran) Kami?
443) Sebagian mufasir memahami raqīm sebagai nama anjing dan sebagian yang lain menafsirkannya sebagai batu prasasti berisi catatan tentang agama tauhid atau nama-nama mereka.
Tafsir tahlili
Allah menerangkan bahwa apakah Nabi Muhammad mengira bahwa kisah Aṣḥābul Kahf beserta raqīm (batu tertulis) sebagaimana yang tersebut dalam kitab-kitab lama adalah tanda-tanda kekuasaan Allah yang paling menakjubkan.
Memang jika dilihat, peristiwa Aṣḥābul Kahf berlawanan dengan hukum alam. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan berbagai kejadian pada tumbuh-tumbuhan, binatang-binatang, dan segala mineral yang merupakan perhiasan di atas bumi ini, maka kejadian ini memang menakjubkan. Tujuannya adalah untuk menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Allah. Namun demikian, peristiwa Aṣḥābul Kahf itu bukan satu-satunya tanda kekuasaan Allah, tetapi hanya sebagian kecil dari bukti keagungan-Nya. Sekiranya para ulama agama lain merasa kagum dan terpesona oleh peristiwa tersebut, maka Rasulullah dan umatnya seharusnya lebih terpesona lagi oleh berbagai fenomena alam semesta dengan segala keajaibannya. Kejadian langit dan bumi, pergantian siang dan malam, peredaran matahari, bulan, planet, dan bintang-bintang atau bagaimana Allah menghidupkan kembali segala sesuatu yang telah mati, semua itu merupakan bukti-bukti yang menunjukkan kekuasaan Allah. Dia berbuat menurut kehendak-Nya, tidak seorang pun yang menolak ketetapan-Nya. Oleh karena itu, Al-Qur’an selalu mengajak manusia untuk menyelidiki rahasia alam semesta ini.
Menurut riwayat Israiliyat, orang-orang Nasrani telah banyak melakukan kesalahan. Raja-raja mereka berlaku aniaya sampai menyembah berhala, bahkan memaksa rakyatnya untuk juga menyembahnya. Seorang raja mereka yang bernama Decyanus mengeluarkan perintah keras kepada rakyatnya untuk menyembah berhala-berhala itu dan menyiksa siapa yang menentang-nya. Beberapa orang pemuda dari kalangan bangsawan dipaksanya turut menyembah berhala-berhala itu, bahkan diancam akan dibunuh jika berani menolak perintah itu. Namun mereka menolaknya dan tetap bertahan dalam agama mereka. Lalu Decyanus melucuti pakaian dan perhiasan mereka. Karena masih sayang kepada remaja-remaja itu, raja membiarkan mereka hidup dengan harapan agar mau mengikuti perintahnya nanti. Raja itu juga pergi ke negeri-negeri lain untuk memaksa penduduknya menyembah berhala dan siapa yang menolak perintahnya dibunuh.
Pemuda-pemuda itu kemudian pergi ke sebuah gua, yang terletak di sebuah gunung yang disebut Tikhayus, dekat kota mereka, Afasus. Di gua itu mereka beribadah menyembah Allah. Sekiranya diserang oleh raja Decyanus dan dibunuh, maka mereka mati dalam ketaatan. Jumlah mereka tujuh orang. Di tengah perjalanan ke gua, mereka bertemu seorang peng-gembala dengan seekor anjingnya yang kemudian ikut bersama mereka. Di gua itulah mereka tekun menyembah Allah. Di antara mereka ada seorang yang bernama Tamlikha. Dia bertugas membeli makanan dan minuman untuk teman-temannya dan menyampaikan kabar bahwa Decyanus masih mencari mereka. Setelah kembali dari perjalanannya, raja itu segera mencari ahli-ahli ibadah kepada Allah untuk dibunuh, kecuali bila mereka mau menyembah berhala. Berita ini terdengar oleh Tamlikha ketika dia sedang berbelanja lalu disampaikan kepada teman-temannya. Mereka menangis. Allah swt kemudian menutup pendengaran mereka sehingga mereka tertidur.
Sumber: Al-Qur'an dan tafsir Kementerian Agama RI.