Tafsir ayat 21
وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا عِنْدَنَا خَزَاۤىِٕنُهٗ وَمَا نُنَزِّلُهٗٓ اِلَّا بِقَدَرٍ مَّعْلُوْمٍ
Wa im min syai'in illā ‘indanā khazā'inuhū wa mā nunazziluhū illā biqadarim ma‘lūm(un).
Tidak ada sesuatu pun melainkan di sisi Kamilah perbendaharaannya395) dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu.
395) Segala sesuatu itu bersumber dari Allah Swt.
Tafsir tahlili
Ayat ini menerangkan bahwa sumber segala sesuatu yang ada di alam ini adalah ciptaan Allah. Semua berasal dari khazanah atau simpanan perbendaharaan Allah, baik yang berupa sumber daya alam (SDA) maupun sumber daya manusia (SDM). Semua yang ada di atas bumi maupun di dalam perutnya diciptakan Allah untuk manusia. Manusia diberi tugas oleh Allah untuk mengelola, mengambil manfaat, dan memeliharanya. Hal ini ditegaskan Allah dalam Surah Hūd/11 ayat 61:
هُوَ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا فَاسْتَغْفِرُوْهُ ثُمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِ ۗاِنَّ رَبِّيْ قَرِيْبٌ مُّجِيْبٌ ٦١
…Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) dan memperkenankan (do’a hamba-Nya). (Hūd/11: 61)
Untuk dapat mengambil manfaat yang besar dari sumber daya alam (SDA) yang tersedia, manusia perlu mengembangkan kemampuan dan keterampilan sumber daya manusia (SDM)-nya dengan menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemudian untuk betul-betul dapat menggali sumber daya alam itu perlu modal. Dengan kombinasi atau gabungan antara natural resources, yaitu sumber daya alam, skill atau keterampilan manusia, serta modal yang cukup, manusia dapat meraih rezeki dari Allah untuk kemakmuran dan kesejahteraan hidupnya. Hal ini sesuai dengan sunatullah yaitu orang yang diberi rezeki hanyalah yang berusaha dan bekerja keras mencarinya.
Berusaha dan bekerja keras untuk memperoleh rezeki dari khazanah perbendaharaan Allah ini juga harus disertai tanggung jawab untuk memelihara (konservasi) kekayaan dan sumber daya alam, dan tidak merusak serta menghancurkannya. Oleh karena itu, pada akhir ayat 61 Surah Hūd, Allah mengingatkan manusia supaya selalu mohon ampunan dan bertobat kepada Allah, serta menghentikan perbuatan-perbuatan yang merusak tatanan alam yang telah ditentukan dalam sunatullah. Hal ini dapat diketahui dari pemahaman ilmu pengetahuan dan teknologi.
Manusia yang baik menurut tuntunan agama Islam ialah yang dapat melaksanakan tugas dengan baik dalam ibadah dan khilafah (melaksanakan tugas kepemimpinan dan pengelolaan alam yang baik). Dia memperoleh rezeki dengan bekerja dan berusaha secara baik dan sungguh-sungguh, bukan merusak dan menjadi beban bagi orang lain.
Hadis Nabi saw yang diriwayatkan oleh al-Ḥākim telah memberi tuntunan, antara lain:
عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ رَضِيَ êã عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ: أَيُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ؟ قَالَ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُوْرٍ. (رواه الحاكم)
Dari Rifa’ah bin Rafi’ bahwa Nabi saw ditanya orang, “Usaha manakah yang paling baik?” Rasulullah berkata, “Usaha seseorang yang dikerjakan dengan tangannya dan semua jual beli yang mabrur (jual beli yang bersih tidak ada di dalamnya unsur-unsur tipuan, pemaksaan, dan sebagainya).” (Riwayat al-Ḥākim)
Sumber: Al-Qur'an dan tafsir Kementerian Agama RI.