Tafsir ayat 3
اِنَّ رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الْاَمْرَۗ مَا مِنْ شَفِيْعٍ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ اِذْنِهٖۗ ذٰلِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْهُۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ
Inna rabbakumullāhul -lażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa fī sittati ayyāmin ṡummastawā ‘alal-‘arsyi yudabbirul-amr(a), mā min syafī‘in illā mim ba‘di iżnih(ī), żālikumullāhu rabbukum fa‘budūh(u), afalā tażakkarūn(a).
Sesungguhnya Tuhanmu adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa,341) kemudian Dia bersemayam di atas ʻArasy342) (seraya) mengatur segala urusan. Tidak ada seorang pun pemberi syafaat, kecuali setelah (mendapat) izin-Nya. Itulah Allah, Tuhanmu. Maka, sembahlah Dia! Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?
341) Lihat catatan kaki surah al-A‘rāf (7): 54 342) Bersemayam di atas ʻArasy sesuai dengan keagungan dan kesucian-Nya.
Tafsir tahlili
Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa Dialah yang mengatur perjalanan planet dan benda-benda angkasa lainnya, sehingga satu sama lain tidak saling berbenturan. Dia pula yang menciptakan bumi dan segala isi yang terkandung di dalamnya, sejak dari yang kecil sampai kepada yang besar, semuanya diciptakan dalam enam masa yang hanya Allah sendiri yang mengetahui berapa lama waktu enam masa yang dimaksud itu. Setelah menciptakan langit dan bumi, Dia bersemayam di atas ‘Arsy (singgasana), dan dari ‘Arsy ini Dia mengatur dan mengurus semua makhluk-Nya.
Ketika Rasulullah saw ditanya tentang ‘Arsy, beliau mengatakan:
قَالَ: كَانَ الله ُوَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ قَبْلَهُ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ خَلَقَ السَّمٰوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَكَتَبَ فِى الذِّكْرِ كُلَّ شَيْءٍ (رواه البخاري في كتاب التوحيد)
Bersabda Rasulullah, “Dahulu, Allah telah ada, dan belum ada sesuatupun sebelum-Nya dan adalah ‘Arsy-Nya di atas air, kemudian Dia menciptakan langit dan bumi, dan menulis segala sesuatu di Lauḥ Maḥfūẓ.” (Riwayat al-Bukhārī dalam Kitāb at-Tauhid)
Selanjutnya Allah menerangkan bukti lainnya yang membantah pendapat orang-orang kafir bahwa Al-Qur’an itu adalah sihir, yaitu Dialah yang memiliki dan menguasai segala sesuatu dengan kekuasaan yang tidak terbatas. Dia dapat berbuat sesuai dengan apa yang dikendaki-Nya. Tidak ada sesuatu makhluk pun—walaupun ia seorang rasul atau malaikat—dapat memberikan syafa’at kecuali dengan izin-Nya.
Yang dimaksud dengan “syafā’at” disini ialah pertolongan para malaikat, nabi dan orang-orang saleh kepada manusia pada Hari Kiamat untuk mendapatkan keringanan atau kebebasan dari azab Allah jika Allah memerintahkan atau mengizinkannya.
Ayat ini membantah dakwaan orang-orang kafir bahwa berhala yang mereka sembah selain Allah dapat memberi syafa’at kepada mereka di Hari Kiamat. Hal ini ditegaskan oleh firman Allah:
۞ وَكَمْ مِّنْ مَّلَكٍ فِى السَّمٰوٰتِ لَا تُغْنِيْ شَفَاعَتُهُمْ شَيْـًٔا اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ اَنْ يَّأْذَنَ اللّٰهُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيَرْضٰى ٢٦ (النجم)
Dan betapa banyak malaikat di langit, syafa’at (pertolongan) mereka sedikit pun tidak berguna kecuali apabila Allah telah mengizinkan (dan hanya) bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia ridai. (an-Najm/53: 26)
Syafa’at yang paling dirasakan manfaatnya oleh seseorang hamba ialah syafa’at yang diberikan oleh Nabi Muhammad saw, kepada seseorang yang hati dan jiwanya mengakui keesaan Allah. Abu Hurairah menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah saw, lalu Rasulullah menjawab:
أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ: لاَ إِلٰهَ إِلاَّ الله ُخَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ وَنَفْسِهِ (رواه البخاري عن أبي هريرة)
Manusia yang paling bahagia dengan syafa’atku pada Hari Kiamat, ialah orang-orang yang mengucapkan: “Lā ilahā illallāh” yang timbul dari hati dan jiwa yang bersih.” (Riwayat al-Bukhārī dari Abu Hurairah)
Sumber: Al-Qur'an dan tafsir Kementerian Agama RI.